Gunung Sindur, Genzanews.com — Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) mendorong perubahan pendekatan pembinaan warga binaan dari sekadar administratif menjadi produktif dan terintegrasi secara ekonomi.
Fokus itu ditegaskan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, saat meninjau Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Sabtu, 21 Maret 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan usai Mashudi mewakili pemerintah dalam pembacaan remisi Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Namun agenda tidak berhenti pada seremoni. Ia langsung meninjau sejumlah unit usaha yang dikelola warga binaan pemasyarakatan (WBP), mulai dari peternakan hingga produksi sarana pendukungnya.
Salah satu yang mendapat perhatian ialah produksi kandang baterai ayam petelur. Di lokasi itu, Mashudi tidak hanya mengamati proses produksi, tetapi juga segera menginisiasi jejaring distribusi antar-lembaga pemasyarakatan.

Ia meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang memiliki usaha peternakan ayam petelur untuk memprioritaskan penggunaan kandang produksi Gunung Sindur.
“Ini harus terhubung. Produksi di satu tempat harus diserap oleh yang lain. Kalau itu berjalan, perputaran ekonomi antar-lapas akan hidup,” kata Mashudi.
Selain kandang, ia juga meninjau peternakan ayam petelur serta fasilitas pengolahan gabah menjadi beras. Menurut dia, potensi UMKM di dalam lapas tidak kecil, tetapi selama ini belum dikelola dalam satu sistem yang saling menopang.
Mashudi menilai persoalan utama bukan pada kapasitas produksi, melainkan pada distribusi dan pemasaran. Ia mendorong adanya sinkronisasi kebutuhan antar-UPT agar tercipta ekosistem ekonomi internal yang stabil.
“Harus ada pengaturan. Wilayah tertentu mengambil beras dari sini, telur dari sini, tempe dari sini. Kalau rantai ini terbentuk, ekonominya akan bergerak,” ujarnya.

Produk warga binaan, menurut Mashudi, juga telah menembus pasar internasional. Cocopeat, sapu lidi, batik, tenun, hingga furnitur dilaporkan telah diekspor ke 24 negara di Eropa dan Asia. Namun, ia menekankan pentingnya penguatan sistem agar ekspor tidak bersifat sporadis.
Untuk mempercepat pengembangan, Ditjenpas menggandeng pihak ketiga guna meningkatkan kualitas produksi dan memperluas akses pasar. Meski demikian, Mashudi mengakui tantangan masih ada, terutama terkait konsistensi program di tiap UPT.
Ia menyoroti perlunya spesialisasi produksi agar setiap lapas memiliki identitas usaha yang jelas dan tidak berubah seiring pergantian pimpinan. “Kita harus punya fokus. Ada yang khusus cocopeat, ada yang sapu lidi. Jadi berkelanjutan,” kata dia.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, mengatakan permintaan terhadap kandang baterai ayam petelur masih melampaui kapasitas produksi.
Untuk memenuhi kebutuhan lima lapas saja, diperlukan sekitar 30 ton, sementara produksi belum mencukupi.
Satu set kandang dijual sekitar Rp125 ribu, dengan kualitas yang dinilai mampu bersaing di pasar. “Permintaan tinggi, tapi produksi kami masih terbatas,” ujar Bambang.
Ke depan, Ditjenpas menyiapkan pengembangan lapas terbuka sebagai pusat produksi skala besar. Salah satunya di Kendal, Jawa Tengah,
dengan lahan sekitar 110 hektare yang difokuskan pada sektor perikanan dan pertanian terpadu. Model serupa direncanakan diterapkan di daerah lain secara bertahap.
Melalui integrasi produksi, distribusi, dan kolaborasi dengan mitra eksternal, Ditjenpas menargetkan UMKM di dalam lapas tidak hanya menjadi bagian dari pembinaan, tetapi juga berkontribusi sebagai kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan.(Thalib)







