GENZANEWS.COM – Kuala Lumpur – Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto dalam prosesi penyerahan Naskah Perjanjian The Second Protocol to Amend the ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA Upgrade). Penyerahan naskah dilakukan oleh Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Tengku Zafrul Abdul Aziz, selaku Ketua Dewan ASEAN Free Trade Area (AFTA), kepada Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-47 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain Indonesia, penyerahan naskah juga disaksikan langsung oleh para Kepala Negara dan Pemerintahan ASEAN. “Penyerahan resmi naskah perjanjian ini menandai komitmen bersama negara-negara ASEAN untuk membangun sistem perdagangan yang modern, inklusif, dan berkelanjutan, guna memperkuat integrasi ekonomi kawasan,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Naskah ATIGA Upgrade sebelumnya telah ditandatangani oleh Mendag Busan pada Sabtu, 25 Oktober 2025, bersama dengan perwakilan dari Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Sementara Kamboja dan Laos menandatangani secara ad referendum, dan Myanmar serta Vietnam dijadwalkan menyusul pada November 2025. Implementasi perjanjian ini diperkirakan mulai berlaku 18 bulan setelah seluruh proses penandatanganan selesai.
ATIGA Upgrade menjadi tonggak penting dalam memperkuat integrasi ekonomi ASEAN, menjadikannya lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi regional maupun global. Perjanjian ini mencakup sejumlah elemen baru, seperti dorongan terhadap perdagangan berwawasan lingkungan, penguatan peran UMKM, peningkatan konektivitas rantai pasok, serta penyediaan mekanisme alternatif penyelesaian sengketa.
“Perjanjian ini mencerminkan keyakinan ASEAN untuk terus bergerak maju dan tetap relevan di tengah perubahan ekonomi dunia. Ini bukan sekadar pembaruan aturan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat pasar dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan serta pengembangan rantai pasok yang tangguh dan berdaya saing,” tegas Mendag Busan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko Bris Witjaksono, menyoroti peran aktif Indonesia dalam memastikan kepentingan nasional tetap terjaga selama proses negosiasi.
“Salah satu capaian penting bagi Indonesia adalah mempertahankan protokol khusus untuk beras dan gula, yang menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan pasokan dua komoditas strategis kawasan. Selain itu, perjanjian ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk berkontribusi dalam rantai pasok kawasan, memperkuat konektivitas industri, dan mempercepat transisi menuju perdagangan yang lebih hijau dan kompetitif,” jelas Djatmiko.
Perdagangan intra-ASEAN tercatat masih menjadi yang terbesar dengan nilai mencapai USD 823,1 miliar pada tahun 2024, atau 21,4 persen dari total perdagangan kawasan. Angka ini mencerminkan potensi besar ASEAN dalam memperdalam integrasi ekonomi regional sekaligus memperkuat posisinya di kancah perdagangan global.
Penulis : Maykel
Editor : Maykel







