GENZANEWS.COM – Jakarta – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui kerja sama perdagangan internasional yang lebih luas. Salah satu langkah strategis yang kini menjadi perhatian utama adalah penyelesaian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), sebuah kesepakatan komprehensif yang diharapkan mampu mendorong ekspor, investasi, serta daya saing industri nasional di pasar global.
Dalam acara 9th Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) – CSIS Germany–Indonesia Strategic Dialogue yang digelar di Jakarta, Selasa (4/11), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kerja sama dengan Uni Eropa merupakan upaya penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Uni Eropa sudah menjadi salah satu dari lima mitra dagang terbesar Indonesia dengan surplus perdagangan sekitar USD 4,5 miliar pada tahun 2025. Kesepakatan substansial IEU-CEPA yang diumumkan pada 23 September lalu di Bali mencakup bidang perdagangan, investasi, kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, kerja sama UKM, serta penguatan ekosistem digital,” jelas Menko Airlangga.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan juga menekankan pentingnya perluasan akses pasar dan percepatan kerja sama perdagangan sebagai bagian dari strategi memperkuat fondasi ekonomi nasional. IEU-CEPA disebut sebagai salah satu pilar utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif dan penciptaan lapangan kerja.

Melalui implementasi IEU-CEPA, ekspor Indonesia ke Uni Eropa diproyeksikan dapat meningkat hingga 58%. Selama dua dekade terakhir, perdagangan Indonesia–Uni Eropa terus tumbuh stabil dengan neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus bagi Indonesia.
Selain memperluas akses pasar, kesepakatan ini juga menekankan penguatan investasi, peningkatan nilai tambah, serta daya saing industri nasional. IEU-CEPA mencakup aspek kejelasan regulasi, transparansi, dan komitmen terhadap isu keberlanjutan, yang diharapkan dapat menarik minat investor Eropa untuk mendukung pengembangan industri hilir dan transisi hijau di Indonesia, termasuk dalam hal akses terhadap mineral kritis yang menjadi bagian penting dari rantai pasok global.
Dengan rampungnya kesepakatan ini, Uni Eropa kini tidak hanya berperan sebagai mitra dagang, tetapi juga mitra investasi strategis yang turut mendorong proses industrialisasi nasional. Melalui pengaturan sertifikasi dan pengakuan bersama, produk halal asal Uni Eropa juga akan memperoleh akses langsung ke pasar Indonesia, sementara produk unggulan Indonesia seperti kopi, kakao, karet, minyak sawit, furnitur, dan elektronik akan mendapatkan fasilitas bea masuk nol persen di pasar Uni Eropa.
Selain memperkuat hubungan dagang, kesepakatan ini juga membuka akses lebih luas bagi produk-produk impor strategis dari Uni Eropa seperti farmasi, mesin industri, peralatan mekanis, dan elektronik yang akan menunjang kebutuhan barang modal Indonesia, sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional.
Untuk mengoptimalkan manfaat IEU-CEPA, Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah pendukung, di antaranya pembentukan satuan tugas khusus, penguatan koordinasi lintas kementerian, serta penyempurnaan kebijakan investasi melalui Online Single Submission (OSS) agar tercipta iklim investasi yang lebih efisien dan transparan.
Momentum penyelesaian IEU-CEPA harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperdalam kerja sama ekonomi melalui kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas bisnis, dan lembaga penelitian seperti CSIS. Pemerintah terbuka terhadap masukan dan siap mendorong kerja sama yang lebih produktif,” pungkas Menko Airlangga.
Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Co-founder CSIS dan Wakil Ketua Dewan Pembina CSIS Foundation Jusuf Wanandi, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste, Deputi Kemenko Perekonomian Ferry Irawan dan Edi Prio Pambudi, serta Staf Ahli Menko Perekonomian Haryo Limanseto.
Penulis : Maykel
Editor : Maykel







