GENZANEWS.COM, Bogor – Peran perempuan, khususnya muslimah, kembali ditegaskan sebagai kunci utama dalam menjaga nilai keislaman di tengah derasnya arus perubahan zaman. Hal tersebut mengemuka dalam kajian keislaman yang digelar di Masjid Al-Athoillah, Kota Wisata Bogor, dengan menghadirkan Ustadzah Dr Hj Erna Rasyid Taufan, SE, M.Pd., yang biasa di sapa Bunda Erat sebagai pemateri utama (13/01/2026).
Dalam paparannya, Ustadzah Bunda Erat menegaskan bahwa muslimah tidak boleh terkungkung hanya pada peran domestik semata. Perempuan, menurutnya, memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk terlibat aktif dalam dakwah, terutama melalui keteladanan nyata di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Tugas kita hanya menyampaikan, walaupun satu ayat. Dakwah melalui keteladanan atau dakwah bil hal jauh lebih efektif dibandingkan sekadar teori,” tegasnya di hadapan jamaah.
Ia menekankan, peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Pendidikan karakter, kata Bunda Erat, dimulai sejak anak masih dalam kandungan hingga dewasa, dengan ibu memegang peranan paling besar dalam proses tersebut.
“Pembinaan anak tidak cukup dengan nasihat. Contoh perilaku sehari-hari dari seorang ibu justru menjadi pelajaran paling kuat,” sambungnya.

Menyoroti tantangan generasi Alfa dan Gen Z, Ustadzah Bunda Erat mengingatkan bahwa pembentukan karakter anak saat ini semakin kompleks. Nilai-nilai di luar rumah, menurutnya, kerap bertabrakan dengan pendidikan agama yang ditanamkan di keluarga.
“Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Yang memprihatinkan, kita ini mayoritas Muslim,” ungkapnya lugas.
Terkait kedudukan perempuan dalam Islam, Bunda Erat menegaskan bahwa meskipun laki-laki ditetapkan sebagai pemimpin rumah tangga, peran perempuan tetap sangat strategis, terutama dalam masa kehamilan dan usia dini anak. Ia menilai, perempuan yang berkarier tetap harus menempatkan pengasuhan anak sebagai prioritas utama.
Memasuki awal tahun 2026, Ustadzah Bunda Erat mengaku optimistis terhadap kebangkitan peran kaum wanita dalam dakwah. Sebagai Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Parepare, ia melihat antusiasme ibu-ibu mengikuti pengajian sangat tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh harus didukung oleh suasana rumah dan lingkungan keluarga yang kondusif.
Di sisi lain, ia juga menyoroti minimnya keterlibatan kaum bapak dalam majelis keagamaan. Hingga kini, kata dia, belum terlihat adanya Majelis Bapak Soleh di Parepare.
“Jangan menunggu alim dulu baru berdakwah. Kita belajar sambil berdakwah dan terus memperbaiki diri,” pesannya.
Menutup pemaparannya, Ustadzah Bunda Erat menanggapi isu keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Menurutnya, kuota perempuan tidak perlu dipaksakan apabila tidak dibarengi dengan kapasitas dan kualitas yang memadai.
“Yang terpenting bukan soal jumlah, tapi kemampuan dan amanah dalam kepemimpinan, baik laki-laki maupun perempuan,” pungkasnya.

Salah seorang jamaah, Selvi menuturkan tentang isi ceramah yang disampaikan sangat related dengan kondisi keadaan saat ini. Sebagai seorang ibu dirinya sangat membutuhkan guideline untuk menjadi muslimah seutuhnya dan bisa mengurus rumah tangga parallel dengan pekerjaannya.
”Yang disampaikan Ustadzah Bunda Erat berhubungan langsung dengan kehidupan nyata, dalam tausiyahnya yang beliau sampaikan secara gamblang juga lengkap dengan contoh-contoh ketika posisi seperti yang di alaminya secara langsung. Menceritakan pengalamannya secara langsung dengan bahasa yang mudah dicerna ibu-ibu jamaah pada umumnya,” ujar Selvi di kajian tersebut yang dihadiri tidak kurang dari 300 jamaah tersebut.
Sementara itu sebagai Ketua DKM Masjid Al-Athoillah yang juga Ketua Yayasan Al-Athoillah, Ust Slamet Sutriadi memberikan tanggapannya tentang ceramah Ustadzah Bunda Erat yang membahas tentang peranan muslimah dalam dakwah Islam mengatakan bahwa pihaknya merasa beruntung dengan dengan kedatangan tokoh agama wanita yang cukup mumpuni keilmuannya.
”Pada dasarnya semua ajakan kebaikan itu semua baik. Ustadzah Bunda Erat memberikan tambahan wawasan agar semua orang dalam posisi apapun punya kegiatan tentang dakwah. Ballighu ‘anni walau ayah, Bunda Erat menekankan hal ini bahwa dakwah ini. Menyampaikan dalil dari Al-Qur’an atau sebagiannya dan dari As-Sunnah, baik sunah yang berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuan dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,” kata Ust Slamet.
Menurutnya cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, balig (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (saleh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah)
”Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap ayat-ayat yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh kapabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan itu ada pada diri Ust Bunda Erat,” pungkas Ust Slamet.







