WCPP 2026 dan Wajah Baru Pemasyarakatan: Prestasi Lahir dari Balik Lapas

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 22 April 2026 - 00:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Drs.Mashudi. (Foto - Thalib)

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Drs.Mashudi. (Foto - Thalib)

JAKARTA, Genzanews.com — Kesuksesan penyelenggaraan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 yang berlangsung pada 14–17 April 2026 di Bali International Convention Center tidak hanya mencerminkan kemampuan Indonesia sebagai tuan rumah forum internasional.

Lebih dari itu, perhelatan yang diikuti 44 negara dan lebih dari 400 peserta tersebut menyimpan kisah mengharukan tentang peran warga binaan pemasyarakatan yang berada di balik layar kesuksesan acara.

Direktur Pemasyarakatan, Mashudi, mengungkapkan rasa bangga sekaligus haru atas keterlibatan aktif warga binaan dalam mendukung jalannya kongres berskala dunia tersebut.

Menurutnya, hampir seluruh elemen yang meramaikan acara berasal dari hasil pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

“Ada yang membuat saya sangat terharu. Semua yang meramaikan dan menunjang acara itu adalah warga binaan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).

Mashudi menjelaskan, kontribusi warga binaan tidak sekadar partisipasi simbolik, melainkan mencerminkan kualitas pembinaan yang berkelanjutan dan terstruktur. Hal itu terlihat dari keberadaan kelompok musik dan gamelan yang tampil, yang merupakan hasil regenerasi panjang di dalam lapas.

Ia menyebutkan, band yang tampil bahkan telah memasuki generasi kelima, sementara kelompok gamelan sudah mencapai generasi ketiga. Regenerasi tersebut berjalan secara konsisten, seiring dengan keluar-masuknya warga binaan.

“Karena mereka warga binaan, ketika bebas langsung digantikan oleh yang lain. Proses mencari dan melatih penggantinya dilakukan oleh petugas lapas sendiri,” jelasnya.

Keberhasilan tersebut, lanjut Mashudi, menjadi bukti konkret bahwa sistem pembinaan di lembaga pemasyarakatan mampu melahirkan karya dan talenta yang layak tampil di panggung internasional.

Tidak hanya itu, ia juga menilai dedikasi para petugas lapas yang menjadi pelatih memiliki peran kunci dalam menjaga kesinambungan kualitas pembinaan.

Sebagai bentuk apresiasi, Mashudi mengaku sempat menawarkan penghargaan berupa promosi jabatan kepada para pelatih. Namun, respons yang diterima justru di luar dugaan.

“Saya tanya, ‘kamu ingin jabatan apa?’ Tapi jawabannya unik. Mereka tidak ingin jabatan, justru memilih tetap menjadi pelatih. Ada yang bilang, kalau dapat jabatan, nanti siapa yang melatih band,” ungkapnya.

Sebagian pelatih bahkan hanya menginginkan status jabatan fungsional agar tetap dapat fokus membina warga binaan. Sikap tersebut, diakui Mashudi, meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi refleksi tersendiri baginya.

“Saya pulang dari sana malah merasa tertekan, karena mereka tidak mau promosi. Mereka memilih tetap mengabdi di bidang yang mereka cintai,” katanya.

Kontribusi warga binaan dalam WCPP 2026 diketahui berasal dari berbagai lembaga pemasyarakatan, di antaranya Lapas Bangli yang menyumbangkan penampilan band musik, serta Lapas Grobogan yang menghadirkan kelompok gamelan, termasuk keterlibatan warga binaan perempuan.

Meski banyak pelatih menolak promosi, Mashudi menegaskan bahwa penghargaan tetap akan diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka.

“Mereka bilang, ‘saya tetap di sini saja’. Tapi yang pasti, penghargaan tetap kami berikan. Sekecil apa pun kontribusinya harus dihargai,” tegasnya.

Keberhasilan WCPP 2026 pada akhirnya tidak hanya menegaskan posisi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menghadirkan wajah baru sistem pemasyarakatan.

Sebuah pendekatan yang tidak semata berorientasi pada penghukuman, melainkan pembinaan yang mampu melahirkan prestasi dan harapan, bahkan dari balik tembok lembaga pemasyarakatan.(Thalib)

Berita Terkait

AJP, Buronan Pembunuhan AS, Ditangkap di Indonesia dan Dipulangkan dengan Pengawalan US Marshals
Dari Penjara ke Ruang Karya: Wajah Baru Pembinaan di Lapas Cipinang
Langkah Tegas Ditjen PAS: 263 Warga Binaan High Risk Digeser ke Nusakambangan
Sinergi Imigrasi dan Seskab, Pelayanan Bandara hingga Perbatasan Ditingkatkan
Hunian Lapas Melonjak, Ditjen PAS Dorong Pendekatan Restoratif Lewat KUHAP Baru
Komitmen Tegas Pemerintah: Menteri Imipas Pastikan Lapas Bersih dari Narkotika
Ikrar Tanpa Kompromi: Lapas Pati Deklarasikan Perang terhadap Narkoba dan HP Ilegal
Imigrasi Bongkar Skema Ilegal ke Australia, Tiga WN Pakistan Hadapi Ancaman 15 Tahun Penjara

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 11:28 WIB

AJP, Buronan Pembunuhan AS, Ditangkap di Indonesia dan Dipulangkan dengan Pengawalan US Marshals

Jumat, 24 April 2026 - 10:34 WIB

Dari Penjara ke Ruang Karya: Wajah Baru Pembinaan di Lapas Cipinang

Jumat, 24 April 2026 - 10:05 WIB

Langkah Tegas Ditjen PAS: 263 Warga Binaan High Risk Digeser ke Nusakambangan

Kamis, 23 April 2026 - 06:56 WIB

Sinergi Imigrasi dan Seskab, Pelayanan Bandara hingga Perbatasan Ditingkatkan

Rabu, 22 April 2026 - 23:54 WIB

Hunian Lapas Melonjak, Ditjen PAS Dorong Pendekatan Restoratif Lewat KUHAP Baru

Berita Terbaru

Ekbis

Alarm Ketahanan Energi Nasional Ditengah Fiskal Sempit

Jumat, 24 Apr 2026 - 16:35 WIB

Aktifitas Warga Binaan Lapas Kelas 1 Cipinang sedang membuat produk Batik Gambar Produk UMKM. (Foto - Thalib)

Kemen Imipas

Dari Penjara ke Ruang Karya: Wajah Baru Pembinaan di Lapas Cipinang

Jumat, 24 Apr 2026 - 10:34 WIB