Kopi, Laundry, hingga Ukiran Kayu: Cara Rutan Depok Bangun Kemandirian Warga Binaan

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto - Thalib

Foto - Thalib

DEPOK, Genzanews.com — Di tengah persoalan klasik overkapasitas yang membayangi lembaga pemasyarakatan di berbagai daerah, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok memilih mengambil langkah berbeda.

Tidak hanya berfokus pada pengamanan, rutan ini juga mendorong pendekatan pembinaan yang lebih humanis dan produktif bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Dengan jumlah penghuni mencapai 1.206 orang, terdiri dari 736 narapidana dan 470 tahanan, termasuk 33 warga binaan perempuan, kepadatan hunian menjadi tantangan nyata dalam pengelolaan rutan.

Namun di balik keterbatasan tersebut, pihak Rutan Depok berupaya membangun pola pembinaan yang menitikberatkan pada komunikasi terbuka, penguatan keterampilan, hingga persiapan reintegrasi sosial.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah “Karutan Menyapa”, sebuah forum dialog langsung antara Kepala Rutan dengan warga binaan.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh WBP dikumpulkan di lapangan untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, hingga masukan secara terbuka.

“Di situ kita buka sesi tanya jawab. Keluhan-keluhan kita tampung, dan yang bisa langsung dijawab, biasanya langsung dijawab Karutan,” ujar Kepala Subseksi Administrasi dan Perawatan, Robby Robbany, Rabu (6/5/2026).

Program yang sebelumnya digelar rutin setiap dua pekan itu kini disesuaikan dengan dinamika kegiatan rutan. Meski begitu, semangat membangun komunikasi dua arah tetap dipertahankan sebagai upaya menciptakan suasana pembinaan yang lebih kondusif.

Menurut Robby, program tersebut terinspirasi dari arahan pimpinan di tingkat kementerian untuk mendorong transparansi sekaligus meminimalkan potensi konflik di dalam rutan.

Selain membangun komunikasi, Rutan Depok juga menerapkan strategi “jemput bola” guna menekan angka overstay dan overcrowding.

Petugas secara aktif mendata warga binaan yang telah memenuhi syarat program integrasi, seperti pembebasan bersyarat (PB) maupun cuti bersyarat (CB).

“Kita kumpulkan yang sudah mendekati dua pertiga masa hukuman. Kita tanya, kenapa belum urus PB atau CB. Kita bantu proses sampai ke Bapas,” jelasnya.

Meski demikian, proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Salah satu kendala utama adalah tidak adanya pihak keluarga yang bersedia menjadi penjamin bagi warga binaan.

“Kalau tidak ada penjamin, kita tidak bisa paksakan. Ada juga keluarga yang sudah tidak mau menerima,” ungkap Robby.

Padahal, keberadaan penjamin menjadi syarat penting untuk memastikan proses pengawasan berjalan saat warga binaan kembali ke masyarakat, termasuk kewajiban pelaporan kepada Balai Pemasyarakatan (Bapas).

Di sektor pembinaan kemandirian, Rutan Depok menghadirkan berbagai program produktif yang melibatkan langsung warga binaan.

Salah satunya adalah budidaya maggot yang dimanfaatkan sebagai solusi pengolahan sampah organik.

Setiap hari, sekitar 10 hingga 20 kilogram sampah organik diolah menggunakan maggot. Larva hasil budidaya kemudian dijual kepada penampung di kawasan Cimanggis dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

“Sekali jual bisa sampai 100 kilo, biasanya seminggu sekali. Tapi tujuan utama kita bukan profit, melainkan pengolahan sampah,” kata Robby.

Hasil penjualan tersebut digunakan untuk mendukung perawatan fasilitas pembinaan, sementara sebagian lainnya diberikan sebagai premi kepada warga binaan yang terlibat dalam program.

Tak hanya itu, Rutan Depok juga mengembangkan unit laundry yang kini telah berjalan sekitar tujuh bulan. Program tersebut dirancang sebagai bekal keterampilan kerja agar warga binaan memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.

“Harapannya, teman-teman keluar punya skill, tidak bingung cari kerja,” ujarnya.

Salah seorang warga binaan, Ebi, mengaku merasakan manfaat dari program tersebut. Selain memperoleh pengalaman kerja, ia juga mendapatkan premi yang bisa digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun membantu keluarga.

“Alhamdulillah, dari premi bisa buat makan dan disisihkan untuk keluarga saat kunjungan,” tuturnya.

Berbagai kegiatan produktif lain turut dikembangkan di dalam rutan, mulai dari peternakan ayam, budidaya ikan nila, hingga pengolahan kopi melalui merek internal Krabu Coffee Indonesia.

Proses pengolahan kopi dilakukan secara mandiri, mulai dari roasting hingga pengemasan, dengan bahan baku biji kopi yang didatangkan dari kawasan Puncak.

Kreativitas warga binaan juga disalurkan melalui kerajinan ukiran kayu dan desain interior.

Bahkan, sejumlah hasil karya telah menerima pesanan dari pihak luar dengan nilai mencapai ratusan ribu rupiah per unit.

Di bawah kepemimpinan Kepala Rutan Agung Nurbani, pendekatan pembinaan di Rutan Depok diarahkan tidak hanya sebatas menjalani hukuman, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali dan diterima di tengah masyarakat.

Kepala Subseksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan, Michael Millendiannuary R, mengatakan pengembangan program pembinaan akan terus dilakukan, termasuk melalui rencana pemanfaatan lahan rawa milik pemerintah di sekitar area rutan.

“Kita ingin program ini berkembang. Bukan hanya untuk rutan, tapi juga memberi dampak saat mereka bebas nanti,” ujar Michael.

Melalui pendekatan humanis, komunikasi terbuka, dan pembinaan berbasis keterampilan, Rutan Depok perlahan menunjukkan upaya menghadirkan wajah pemasyarakatan yang lebih produktif dan berorientasi pada perubahan.

Di balik tembok tinggi dan keterbatasan ruang, harapan untuk membangun masa depan para warga binaan tetap tumbuh.(Thalib)

Berita Terkait

Gunung Sindur Perangi Narkoba dan Penipuan, Petugas Lapas Gelar Ikrar Pemasyarakatan Bersih
Ditjen Imigrasi Gerebek Operasi Scam Trading Internasional Di Batam
Ditjenpas Gelar Ikrar Nasional, Mashudi: Tidak Ada Kompromi bagi Petugas Nakal
Coffee Morning Ditjenpas: Mashudi Buka Ruang Kritik soal Narkoba, Pungli hingga Fasilitas Mewah di Lapas
Dari Kunjungan Digital hingga UMKM: Strategi Lapas Salemba Hadapi Overkapasitas
Imigrasi Tegas: 62 WNA Pelanggar di Bali Akan Ditindak Tanpa Kompromi
Gagal Kabur ke Kuala Lumpur, Tiga WNA DPO Kasus Pencurian Rumah Mewah di Bogor Ditangkap Imigrasi Ngurah Rai
23 WNI Tujuan Jeddah Ditunda, Imigrasi Perketat Pengawasan Haji 2026

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 18:12 WIB

Gunung Sindur Perangi Narkoba dan Penipuan, Petugas Lapas Gelar Ikrar Pemasyarakatan Bersih

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:22 WIB

Ditjen Imigrasi Gerebek Operasi Scam Trading Internasional Di Batam

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:37 WIB

Ditjenpas Gelar Ikrar Nasional, Mashudi: Tidak Ada Kompromi bagi Petugas Nakal

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:52 WIB

Coffee Morning Ditjenpas: Mashudi Buka Ruang Kritik soal Narkoba, Pungli hingga Fasilitas Mewah di Lapas

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:41 WIB

Kopi, Laundry, hingga Ukiran Kayu: Cara Rutan Depok Bangun Kemandirian Warga Binaan

Berita Terbaru