JAKARTA – GENZANEWS.COM – Industri film nasional kembali mempersembahkan karya yang sarat pesan kemanusiaan melalui film layar lebar “NIA”, sebuah drama yang diangkat dari kisah nyata tragedi memilukan yang terjadi di Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Film ini disutradarai oleh Aditya Gumay dan diproduseri oleh Smaradana Pro bersama Ronny Mepet, dengan musik digarap oleh Adam S. Permana.

Gala Premiere film “NIA” digelar pada Minggu sore, 24 November 2025, dan berlangsung meriah. Acara dihadiri ribuan penonton, komunitas seni, keluarga besar Gebu Minang, hingga 13 warga negara Malaysia yang turut memberikan dukungan. Sebelumnya, gala premiere serupa telah digelar di Padang pada 14 dan 20 November, namun penayangan di Jakarta malam ini disebut sebagai “Brand Gala Premiere” dengan animo penonton mencapai lebih dari 2.000 tiket.
Karya Berbasis Kisah Nyata yang Menggugah Nurani
Film “NIA” mengisahkan perjuangan hidup Nia Kurnia Sari, gadis 18 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga setelah kedua orang tuanya berpisah. Ia bekerja keras menghidupi ibu yang sakit, kakak, dan adik-adiknya.

Peran Nia dimainkan dengan penuh totalitas oleh Syakira Humaira, yang harus belajar logat Minang, menurunkan berat badan, hingga melakukan observasi mendalam untuk menggambarkan sosok Nia yang lembut namun kuat.
Tragedi bermula saat Nia menjadi korban kekerasan keji oleh seorang pemuda pengangguran bernama Andri, diperankan Qya Ditra—satu-satunya pemeran antagonis dalam film ini. Dalam perjalanan pulang berjualan, Nia diserang, diperkosa, dan dibunuh dengan keji. Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di tepi irigasi Kayu Tanam.
Kisah nyata ini sempat mengguncang masyarakat Sumatera Barat dan menyisakan luka mendalam. Para pemain pun mengaku sangat terhanyut saat mendalami perannya. Helsi Herlinda, pemeran ibu Nia yang bernama Elis, menyampaikan bahwa perannya sangat menantang karena harus menampilkan kesedihan mendalam seorang ibu yang kehilangan putrinya akibat kekerasan brutal.
Diperkuat Aktor-Aktris Terbaik Indonesia
Selain Syakira dan Qya Ditra, film ini turut dibintangi oleh:
Helsi Herlinda
Neno Warisman (sebagai Makwo, penguat sisi emosional film)
Eka Maharani
Aisyah Zahira
Machika Eva Luna
Adi Dande
Diza Refengga
Ida Leman
Zainal Chanigo
Film ini juga menampilkan penampilan khusus para tokoh nasional, seperti:
Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, dengan gelar adat Datuak Bijo di Rajo Nan Kuniang
Buya Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat
Prof. Dr. Dailani Firdaus, SH., LL.M.
Komjen Pol (Purn.) Boy Rafli Amar
Pesan Anti-Narkoba dan Seruan Perlindungan Perempuan
Dalam sesi diskusi gala premiere, para pembicara menegaskan bahwa film ini juga membawa pesan penting mengenai bahaya narkoba yang menjadi salah satu latar kehidupan pelaku kejahatan.
“Kalau sudah dekat dengan narkoba hanya ada tiga pilihan: rumah sakit jiwa, penjara, atau kuburan,” ujar salah satu pembicara. Pernyataan ini menggambarkan betapa narkoba menjadi pintu awal berbagai tindak kejahatan, termasuk tragedi yang menimpa Nia.
Film “NIA” tidak hanya menampilkan tragedi, tetapi juga menjadi seruan moral bagi perlindungan perempuan dan anak. Bahwa kekerasan bukan sekadar angka statistik, melainkan peristiwa yang menghancurkan masa depan seseorang dan keluarga.
Elemen Cinta, Harapan, dan Humanisme
Meski tragedi menjadi inti cerita, film ini juga menyelipkan sisi lembut kehidupan Nia melalui kisah cintanya dengan seorang pemuda yang tengah berjuang melawan penyakit jantung. Kisah ini menambah dimensi emosional yang menghangatkan, dan memberi pesan bahwa di balik kegelapan selalu ada harapan yang diperjuangkan.
Harapan Para Pembuat Film
Aditya Gumay dan Ronny Mepet menegaskan bahwa film ini digarap dengan riset mendalam agar tidak hanya akurat tetapi juga humanis.
“Ini bukan film fiktif. Ini peristiwa nyata yang mengajarkan betapa berharganya hidup seorang perempuan muda,” ujar Aditya.
Para tokoh adat, pemerintah daerah, dan keluarga besar almarhum turut memberikan restu sebelum produksi dilakukan. Dukungan Gubernur Sumbar, tokoh adat Pariaman, dan komunitas masyarakat menjadikan film ini sebagai karya budaya yang sangat berarti.
Tayang Serentak di Seluruh Indonesia
Film “NIA” siap tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025.
Film ini diharapkan menjadi salah satu karya paling berpengaruh di akhir tahun, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya rasa aman bagi setiap perempuan Indonesia.
“Ini bukan hanya film untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan sebagai seruan kemanusiaan,” tutup salah satu produser.
Penulis : Maykel
Editor : Maykel







