GENZ NEWS – Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa peran aktif Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir, merupakan wujud nyata pelaksanaan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Presiden Prabowo hadir sejajar dengan para pemimpin dunia — di antaranya Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Raja Yordania Abdullah II, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta Sekretaris Jenderal PBB António Guterres — untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di Gaza, yang menjadi langkah bersejarah menuju stabilitas dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina.
KTT ini merupakan tindak lanjut dari Multilateral Meeting on the Middle East yang dihadiri Presiden Prabowo di sela Sidang Umum PBB ke-80 pada September lalu, yang diinisiasi Presiden Trump. Pertemuan tersebut membahas penyelesaian konflik Palestina melalui solusi dua negara yang adil dan setara. Hingga September 2025, sebanyak 157 dari 193 negara anggota PBB — atau lebih dari 80% — telah mengakui Negara Palestina sebagai negara berdaulat yang sah.
Fadli Zon: Genosida Budaya Harus Dihentikan
Dalam pernyataannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya perlindungan terhadap peradaban dan warisan budaya Palestina sebagai bagian tak terpisahkan dari perdamaian sejati.
“Penghancuran sistematis terhadap situs budaya dan sejarah di Palestina merupakan bentuk genosida budaya — penghapusan identitas dan ingatan kolektif suatu bangsa. Peran aktif Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kepemimpinan nyata Indonesia dalam mendorong perdamaian di Gaza. Komitmen beliau bukan hanya diplomasi politik yang beradab, tetapi juga perjuangan untuk melindungi peradaban manusia dari kehancuran akibat penjajahan,” ujar Fadli Zon.
Dalam forum KTT tersebut, Presiden Prabowo juga menyampaikan kesiapan Indonesia mendukung proses rekonstruksi Gaza setelah perdamaian dicapai, termasuk dengan mengirim pasukan penjaga perdamaian di Palestina. Dukungan ini merupakan bagian dari langkah nyata menuju perdamaian yang berkelanjutan sebagaimana disepakati dalam “Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict”, yang tidak hanya menghentikan kekerasan, tetapi juga membangun fondasi rekonsiliasi, pemulihan, dan pembangunan masa depan yang stabil bagi rakyat Palestina.
Menanggapi inisiatif tersebut, Fadli Zon menegaskan pentingnya memasukkan pelindungan budaya Palestina dalam rencana rekonstruksi pascaperang.
“Selama lebih dari tujuh dekade, Palestina bukan hanya mengalami penjajahan politik, tetapi juga upaya penghapusan budaya. Genosida budaya ini adalah kejahatan terhadap peradaban. Indonesia, melalui komitmen Presiden Prabowo, hadir tidak hanya untuk berbicara soal perdamaian, tetapi juga untuk melindungi keberlanjutan sejarah dan jati diri bangsa Palestina,” tegasnya.
Indonesia, Penjaga Keadilan dan Kemanusiaan Global
Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan bagian penting dari Global South, Indonesia memegang peran strategis bukan sebagai penonton, melainkan inisiator, penengah, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan global.
Indonesia percaya bahwa tidak ada perdamaian yang bermartabat tanpa keadilan sejarah dan kebudayaan. Dengan semangat kemanusiaan dan menjalankan amanat konstitusi, Indonesia terus berdiri bersama rakyat Palestina — membela kemerdekaannya, melindungi warisan budayanya, dan memperjuangkan masa depan yang damai serta berkelanjutan.
Penulis : Maykel
Editor : Maykel







